Book titled “National Morality” by Willy Aditya

Demokrasi hari ini telah dinobatkan sebagai system terbaik dalam tata kelola pemerintahan di dunia. Berbagai Negara melakukan upaya untuk menerapkan demokrasi di negaranya masing-masing. Negara yang nampaknya otoriter sekalipun rmisalnya tak kalah ikut mengklaim negaranya menerapkan demokrasi. Disinilah kemudian demokrasi dimaknai secara beragam oleh banyak pihak. Demokrasi sendiri secara sederhana dimaknai sebagai sebuah pemerintahan yang berasal dari rakyat oleh raykat dan untuk rakyat. Disini rakyat menjadi unsur penting yang harus dilibatkan dalam system pemerintahan.
Begitu pula dengan Indonesia, geliat demokrasi nampak tumbuh subur dan berkembang dari masa ke masa. Khususya pada era reformasi dimana kran demokrasi mengucur deras. Media massa bebas berbicara, partai politik tumbuh dan berkembang, serta masyarakat memiliki kebebasan berpendapat. Euforia itu disambut baik oleh seluruh bangsa. Terlebih ketika proses pemilu dirubah dari yang semula dipilih melalui DPR berubah menjadi pemilihan secara langsung oleh rakyat. Disinilah posisi rakyat terlihat benar-benar diperhatikan. Pemilu menjadi salah satu tolok ukur dari keberhasilan demokrasi karena melalui mekanisme inilah partisipasi nyata masyrakat terlihat melalui penyaluran suara yang mereka miliki.
Setelah lebih dari 10 tahun menerapkan system pemilu langsung oleh rakyat wajah pemilu di Indonesia dipenuhi dinamika. Tidak hanya tampilan dan kemajuan demokrasi yang positif namun juga wajah demokrasi yang ditunjukkan dalam pemilu dalam beberapa hal menunjukkan beberapa hal buruk. Seperti misalnya munculnya konflik antar masyarakat, munculnya kekerasan, dan money politik. Pemilu menjadi sebuah arena atau “pasar” tempat dimana jual beli kepentingan terjadi serta tempat dimana deal-deal politik terjadi.
Inilah yang menjadi ironi kita bersama. Yang kemudian mencoreng wajah demokrasi kita adalah tentang “moralitas” demokrasi itu sendiri. Tentang etika yang diterapkan oleh bangsa dan para tokoh politik kita. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap etika pemerintahan serta rusaknya arena politik oleh masuknya berbagai kepentingan golongan tertentu adalah fakta yang terjadi hari ini.
Berangkat dari fakta tersebut hadirlah sebuah buku bertajuk “Moralitas Republikan” yang ditulis oleh Willy Aditya. Buku ini lahir atas keresahan penulis terhadap fakta yang terjadi dalam politik dan demokrasi kita khususnya dalam hal moralitas. Secara lebih rinci buku ini memberikan sajian tentang bagaimana cara berpolitik yang baik.

Tujuan dari kegiatan bedah buku ini adalah untuk memberikan pemahaman terhadap mahasiswa program studi ilmu pemerintahan tentang pentingnya moralitas dalam berpolitik dan demokrasi. Melalui kegiatan ini mahasiswa sedikitnya akan mendapatkan tiga manfaat. Pertama, mahasiswa mendapatkan tambahan pengetahuan terkait dengan moralitas politik dan etika dalam demokrasi. Kedua, mahasiswa mendapatkan tambahan pengalaman langsung dari penulis yang telah melakukan penelitian langsung terhadap masalah yang diangkat dalam buku. Ketiga, bedah buku yang diangkat sangat berkaitan dengan mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa ilmu pemerintahan yakni mata kuliah Etika Pemerintahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *